KEUTAMAAN-KEUTAMAAN PUASA DAN RAHASIA-RAHASIANYA
Oleh
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar
PENDAHULUAN
Puasa merupakan tempat pembinaan bagi setiap muslim untuk membina
dirinya, di mana masing-masing mengerjakan amalan yang dapat memperbaiki
jiwa, meninggikan derajat, memotivasi untuk mendapatkan hal-hal yang
terpuji dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak. Juga memperkuat
kemauan, meluruskan kehendak, memperbaiki fisik, menyembuhkan penyakit,
serta mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengannya pula berbagai
macam dosa dan kesalahan akan diampuni, berbagai kebaikan akan semakin
bertambah, dan kedudukan pun akan semakin tinggi.
Allah Ta’ala telah mewajibkan bagi kaum muslimin untuk menjalankan
puasa sepanjang bulan Ramadhan, bulan tersebut merupakan sayyidusy
syuhuur (penghulu bulan-bulan lainnya), padanya dimulai penurunan
al-Qur-an. Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan, pendekatan diri,
kebajikan, kebaikan, sekaligus sebagai bulan pengampunan, rahmat dan
keridhaan. Padanya pula tedapat Lailatul Qadar yaitu malam yang lebih
baik dari seribu bulan. Mengenai keutamaan bulan ini dan puasa pada
bulan ini telah disebutkan dalam banyak hadits, dan yang dapat kami
sebutkan di antaranya:
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ
وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ:
إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ
فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ،
يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ
لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.”
“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di
antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak
juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka
hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak
dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang
yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak
kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu
syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan
memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh
kali lipatnya.” [1]
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia
berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ.”
“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” [2]
3. Hadits yang diriwayatkan dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ
مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ
غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ
مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ
مِنْهُ أَحَدٌ.”
‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama
ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari
Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain
mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka pun
berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain
mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga
tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’” [3]
4. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ.”
‘Jika Ramadhan tiba, maka pintu-pintu Surga dibuka.’” [4]
5. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.”
‘Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit akan dibuka
dan pintu-pintu Jahannam akan ditutup dan syaitan-syaitan pun
dibelenggu.’”[5]
6. Hadits yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu,
ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً
وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.”
‘Barangsiapa bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan
dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas
dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh
keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya
atas dosanya yang telah lalu.’” [6]
BEBERAPA RAHASIA PUASA
Puasa merupakan sarana paling tangguh untuk membantu memerangi hawa
nafsu serta menekan nafsu syahwat sekaligus sebagai sarana pensucian
jiwa dan pemberhentiannya pada batas-batas Allah Ta’ala, di mana dia
akan menahan lisannya dari berbicara sia-sia, mencela, serta menyerang
kehormatan orang lain, berusaha menyebar ghibah (menceritakan kejelekan
atau aib orang) dan namimah (mengadu domba) ke tengah-tengah mereka,
puasa juga dapat menundukkan tipu daya, pengkhianatan, kecurangan,
muslihat, serta mencegah upaya melakukan perbuatan keji, memakan riba,
menyuap dan memakan harta manusia dengan cara yang bathil serta berbagai
macam penipuan. Selain itu, puasa juga mendorong seorang muslim untuk
sesegera mungkin mengerjakan perbuatan baik, baik itu shalat maupun
zakat dengan cara yang benar serta menyalurkan kepada pihak-pihak yang
telah ditentukan oleh syari’at. Dia juga akan berusaha mengeluarkan
shadaqah serta melakukan hal-hal yang bermanfaat, berkeinginan keras
untuk memperoleh rizki yang halal dan menghindarkan diri dari perbuatan
dosa dan keji.[7]
Dengan demikian, di dalam puasa itu terkandung banyak keutamaan yang
sangat agung. Selain itu juga memiliki berbagai rahasia besar yang
sebagian di antaranya telah diketahui oleh banyak orang, sedang sebagian
lainnya tidak diketahui.
Dan di antara rahasia dan manfaat puasa yang paling tampak jelas adalah sebagai berikut:
PUASA MERUPAKAN METODE YANG MANTAP UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN
Di antara manfaat puasa yang agung adalah sebagai sarana menyiapkan
seorang muslim dengan kekuatan yang menjadikannya mampu untuk melakukan
perubahan pada dirinya sendiri. Dia dapat melakukan latihan melalui
puasa sehari-hari sehingga dia dapat menahan diri dari setiap hal yang
dia sukai dan cintai. Dan kepada penguasa nafsu dan syahwat, dia akan
mengatakan, “Tidak.”
Sungguh jawaban yang hebat jika berada dalam keridhaan Allah. Jika
seorang muslim mampu mengatakan hal tersebut, berarti dia telah berhasil
mewujudkan kehormatan dan kedudukan yang tinggi atas syahwat dan
ketamakannya. Sedangkan orang-orang yang tidak berpuasa adalah orang
yang tidak pernah mampu mengendalikan gejolak jiwa mereka, bahkan mereka
selalu tunduk kepada syahwat dan keinginan mereka. Mereka adalah
budak-budak yang hina, bahkan lebih buruk dari budak-budak manusia.
Seorang penya’ir telah mengungkapkan:[9]
“Kalau bukan karena kesulitan, niscaya umat manusia ini
secara keseluruhan akan menjadi terhormat,
Kedermawanan semakin langka
dan keberanian berarti perang.”
PUASA SEBAGAI CARA PENGGEMBLENGAN TENTARA
Kehidupan militer dengan segala hal yang diharuskannya, baik itu berupa
kekerasan, kekasaran, ketegaran, ketundukan pada perintah, serta
kedisiplinan pada arahan-arahan komandan. Dan kita bisa dapatkan
perwujudan secara praktis pada puasa.
Yang demikian itu karena puasa merupakan sarana penggemblengan
kekuatan fisik yang mengharuskan pelakunya menempuh satu manhaj (metode)
tersendiri dalam kehidupannya, di mana tiang penyangganya berupa
ketegaran, larangan, dan bersabar atas pahit getirnya rasa lapar dan
panasnya rasa haus, kelelahan fisik dalam mengendalikan diri serta
menahan hawa nafsu dan mengekang keinginannya, seakan-akan seorang
muslim yang berpuasa itu adalah seorang tentara yang siap mendengar dan
mentaati serta menjalankan perintah Rabb-nya tanpa penolakan atau
pembangkangan.
Jika seorang tentara itu tunduk dan berpegang pada perintah serta
menjalankannya di bawah pengawasan komandan, maka orang yang berpuasa
(sedang) menjalankan perintah tanpa pengawasan dari seorang pun, kecuali
dari Allah Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri, yang tidak akan
pernah lengah dan tidur, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.
PUASA MEMPERKUAT KEINGINAN
Puasa dapat memperkuat keinginan, mendorong kemauan, mengajarkan
kesabaran, membantu menjernihkan fikiran, menghidupkan pemikiran, dan
mengilhami pendapat yang cerdas jika seorang yang berpuasa dapat
melangkah ke fase relaks (santai), serta melupakan berbagai rintangan
yang muncul akibat waktu luang dan terkadang keputusasaan, dan ketika
seseorang memiliki keinginan yang kuat sehingga dia mampu mengatakan
kepada pelaku kemunkaran, “Ini munkar.” Dia juga bisa menghadapi segala
bentuk hal-hal negatif yang ada di masyarakat. Sehingga dengan demikian,
dia telah menjadi seorang anggota masyarakat yang dinamis, yang akan
membangun dan tidak merusak, serta melakukan perbaikan dan tidak
melakukan peng-hancuran.
Ketika suatu bangsa memiliki keinginan yang kuat dan besar, maka dia
tidak akan memperkenankan agresor atau penjajah untuk menginjakkan kaki
ke tanahnya atau ikut campur dalam menentukan perjalanan hidupnya.
Dengan kekuatan tersebut, ia juga akan mampu meraih kemenangan di medan
pertempuran melawan kebodohan, keterbelakangan, melawan nafsu syahwat,
serta sanggup menembus segala rintangan pembangunan dan kemajuan.
Syaikh ad-Dausari rahimahullah mengatakan, “Membangun keinginan yang
kuat di dalam diri bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai kalangan,
baik perkumpulan (organisasi) maupun kalangan militer telah berusaha
membangun keinginan yang kuat kepada masyarakat masa kini. Padahal,
Islam telah mendahului mereka dalam hal tersebut pada 14 abad yang lalu.
Cukup besar kebutuhan seorang muslim, khususnya untuk memiliki
keinginan kuat dan kemauan yang keras. Oleh karena itu, Allah Subhanahu
wa Ta’ala memerintahkan untuk berjuang melawan sakit akibat rasa lapar
dan haus dalam menjalankan puasa.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim yang berpuasa
untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak kekuatan ini setelah berbuka,
mengucilkan atau menghinakannya sehingga pada malam harinya dia akan
merusak kuatnya keinginan yang telah dia bangun pada siang harinya.[10]
PUASA MEMBENTUK AKHLAK MULIA
Puasa merupakan tempat penggemblengan diri bagi orang yang
menjalankannya untuk membentuk akhlak mulia, akhlak ketakwaan,
kebajikan, kebaikan, kepedulian, tolong-menolong, kasih sayang,
kecintaan, kesabaran, dan akhlak mulia lainnya yang dibangun oleh puasa
pada diri orang yang menjalankannya.
Puasa dapat membentuk muraqabah (rasa selalu berada dalam pengawasan
Allah) bagi pelakunya. Bagi dirinya ada satu penjaga umum yang selalu
mengawasi dirinya agar tidak ada sesuatu pun yang bersumber dari dirinya
yang bertentangan dengan syari’at. Dialah yang membinanya dari dalam
sehingga darinya muncul amal-amal lahiriah yang tunduk pada pengawasan
ini.
Pernahkah engkau melihat orang yang berpuasa dengan penuh kejujuran
dan kesungguhan kepada Rabb-nya melakukan kebohongan kepada orang lain?
Pernahkah engkau melihatnya secara tulus ikhlas menjalankan puasanya dan
kemudian melakukan kemunafikan di masyarakat? Sesungguhnya keikhlasan
itu merupakan satu bagian utuh yang tidak mungkin dipisahpisahkan, di
mana puncaknya adalah ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh
karena itu, barangsiapa yang tulus ikhlas karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala, maka sangat mustahil baginya untuk melakukan penipuan,
kecurangan atau berkhianat. Oleh karena itu, puasa merupakan salah satu
faktor dasar sekaligus pendalaman akhlak, pembangunan sekaligus
pembentukannya untuk mengambil satu sifat amaliyah (perbuatan) yang
semuanya berkumpul pada buahnya yang cukup jelas yang telah diingatkan
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya: (لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَ)“Agar kalian bertakwa.”
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Puasa memiliki pengaruh yang
sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh yang bersifat lahiriah dan juga
kekuatan bathin serta melindunginya dari faktor-faktor pencemaran yang
merusak. Jika faktor-faktor pencemaran tersebut telah menguasai dirinya,
maka ia akan rusak.
Dengan demikian, puasa akan menjaga kejernihan hati dan kesehatan
anggota badan sekaligus akan mengembalikan segala sesuatu yang telah
berhasil dirampas oleh nafsu syahwat. Puasa merupakan pembantu yang
paling besar dalam merealisasikan ketakwaan…”[11]
PUASA MEWUJUDKAN KETENANGAN JIWA
Pergolakan akan berlangsung terus-menerus antara jiwa yang menyuruh
berbuat kejahatan dengan jiwa yang menyuruh berbuat kebaikan. Setiap
kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang muslim adalah akibat dari
penguasaan jiwa yang memerintahkan berbuat kejahatan. Sedangkan setiap
upaya pendekatan kepada Allah yang dilakukan oleh seorang muslim adalah
senjata kuat yang digunakan oleh jiwa yang memerintahkan berbuat
kebaikan.
Oleh karena itu, puasa akan membangun kekuasaan jiwa, menguatkan
serta meneguhkannya untuk melaksanakan risalahnya dan memfungsikan
perannya dalam menjaga kedamaian dan ketenangan dalam diri seseorang.
Peranan penting dari kekuasaan jiwa itu adalah pengarahan melalui
kecaman dan teguran yang keras setiap kali gangguan jiwa berupaya untuk
mengajak kepada kejahatan, memperdayanya atau menjebaknya agar tunduk
kepadanya. Demikianlah, berbagai pertempuran bersembunyi di dalam jiwa
dan berbagai kekuatan kebaikan akan menang, yang selanjutnya kedamaian
dan rasa aman akan menyelimut dalam jiwa, kemudian beralih ke seluruh
anggota badan sehingga bagian yang lain pun menikmati rasa aman dan
ketenangan. Akhirnya semua kebaikan terealisasi bagi setiap muslim yang
menjalankan puasa.
PUASA MERUPAKAN SALAH SATU WUJUD DARI KESATUAN UMAT ISLAM
Puasa merupakan satu penampakan praktis dari berbagai penampakan
kesatuan kaum muslimin, kesetaraan antara si kaya dan si miskin,
penguasa dan rakyat, orang tua dan anak kecil, serta laki-laki dan
perempuan. Mereka berpuasa untuk Rabb mereka, seraya memohon ampunan-Nya
dengan menahan diri dari makan pada satu waktu dan berbuka dalam satu
waktu juga. Mereka sama-sama mengalami rasa lapar dan berada dalam
pelarangan yang sama di siang hari, sebagaimana mereka mempunyai
kedudukan yang sama dalam mengibarkan syi’ar-syi’ar lain yang berkenaan
dengan puasa.
Dengan demikian, puasa merealisasikan semacam kesatuan tujuan, rasa, nurani, dan tempat kembali di masyarakat yang berpuasa.
Secara keseluruhan, umat Islam berdiri dalam satu barisan pada satu
musim tertentu setiap tahun dan dalam beberapa hari tertentu di antara
seluruh umat manusia ini. Ia merupakan barisan penghubung antara
bangsa-bangsa yang kuat, antara komponen dari umat Islam secara
keseluruhan, meskipun tempat tinggal mereka berjauhan dan berada dalam
satu ikatan yang ditempatkan di hadapan satu pengalaman, yang memiliki
satu pengaruh dan dalam satu penampakan kebersamaan.
Dengan demikian, hati dan perasaan mereka akan menjadi semakin erat
dan akrab sehingga menjadi satu hati yang mengarah kepada kehidupan
dengan satu pandangan.
Inilah satu teladan yang baik bagi persatuan antara berbagai
masyarakat dari umat ini, bahkan sebagai teladan yang ideal bagi setiap
kesatuan dalam kehidupan ini. Sebab, ia merupakan kesatuan yang
bersumber dari nurani dan menciptakan masa depan serta tempat kembali
dan membangkitkan berbagai kemuliaan dari dalam diri yang nampak secara
lahiriahnya, sehingga terwujudnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama
yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.”
[al-Mu’minun/23: 52]
Kesatuan yang diwujudkan oleh puasa ini merupakan kesatuan permulaan, karena ia merupakan buah dari ibadah yang sungguh-sungguh.
Kesatuan nurani, karena ia bersumber dari amal perbuatan perasaan yang didasarkan pada perencanaan jiwa kemanusiaan.
Kesatuan tempat kembali, karena ia menggiring umat ini secara
keseluruhan kepada satu tempat kembali yang berakhir padanya dan berdiam
di sana, yaitu takwa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikannya
sebagai buah dari puasa.
Kesatuan rasa, karena ia menyatukan rasa dan perasaan umat pada satu tujuan dan menempatkannya pada satu jalan.
Kesatuan ‘aqidah, karena ia bersumber dari keimanan dan keyakinan dan bertengger di udara takwa dan ibadah.[12]
Dalam penampilannya yang cukup mengesankan, kesatuan ini memberikan
gambaran yang benar mengenai kesatuan besar yang menyamaratakan semua
anggota umat meskipun terdapat perbedaan jenis, warna kulit, dan
kebangsaan. Jika engkau ingin membuktikan hal tersebut, silakan arahkan
pandangan-mu pada saat berbuka di negara yang aman, di Baitullah, untuk
menyaksikan ratusan ribu orang yang berbuka bersama dalam satu waktu.
Pernahkah engkau menyaksikan tampilan kesatuan yang lebih jelas dari
ini? Pada hakikatnya, yang buta itu bukanlah pandangan mata, tetapi hati
yang ada di dalam dada.
PUASA MEMILIKI PENGARUH BESAR BAGI KESEHATAN SECARA UMUM
Sesungguhnya pada puasa itu terkandung kesehatan yang besar dengan semua
maknanya, baik kesehatan badan, perasaan, maupun rohani.
Dengan demikian, puasa dapat memperbaharui kehidupan seseorang dengan
diperbaharuinya sel-sel dan dibuangnya sel-sel yang sudah tua dan mati
serta diistirahatkannya perut dan organ pencernaan. Puasa juga dapat
memberikan perlindungan terhadap tubuh, membersihkan perut dari
sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna dan juga dari kelembaban yang
ditinggalkan oleh makanan dan minuman.
Banyak para dokter menyebutkan berbagai manfaat puasa, di antaranya
bahwa puasa dapat mempertahankan kelembaban insidentil sekaligus
membersihkan pencernaan dari racun yang ditimbulkan oleh makanan yang
tidak sehat, dan mengurangi lemak di perut yang sangat berbahaya bagi
jantung, yang ia sama seperti pengasingan kuda yang akan dapat menambah
kekuatannya untuk bergerak dan lari.
Sedangkan kesehatan rohani yang ditimbulkan oleh puasa adalah berupa
bimbingan yang diberikan kepada orang-orang yang berpuasa karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala, mengetahui tujuan dari penciptaan mereka,
mempersiapkan mereka untuk mengambil semua sarana takwa yang akan
melindunginya dari kehinaan, kerendahan, dan kerugian di dunia dan
akhirat. Pada akhirnya hati mereka menjadi selamat dari penyakit syubhat
dan penyakit syahwat yang telah menimpa banyak orang.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz telah mengatakan, “Pada puasa itu
terdapat banyak manfaat dan hikmah yang besar, di antaranya adalah
pembersihan, penggemblengan dan pensucian jiwa dari akhlak tercela dan
sifat-sifat buruk, seperti tamak, rakus dan kikir, untuk kemudian
dibiasakan dengan akhlak mulia seperti sabar, santun, dermawan, murah
hati, dan pengerahan jiwa untuk mengerjakan segala hal yang diridhai
Allah dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
Manfaat puasa lainnya adalah membuat seorang hamba dapat memahami
dirinya sendiri dan juga kebutuhannya, kelemahan dan kebutuhan dirinya
akan Rabb-nya, juga mengingatkan diri akan keagungan nikmat Allah yang
diberikan kepadanya, dan mengingatkan akan kebutuhan saudara-saudaranya
yang hidup miskin, sehingga mengharuskan dirinya untuk bersyukur kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memohon pertolongan agar dilimpahkan
berbagai kenikmatan untuk selalu mentaati-Nya serta mengasihi
saudara-saudaranya yang hidup miskin sekaligus dapat berbuat baik kepada
mereka.
Selain itu, manfaat puasa juga dapat membersihkan tubuh dari
pencemaran yang buruk dan memberikan kesehatan serta kekuatan. Hal
tersebut telah diakui oleh banyak dokter. Bahkan mereka telah banyak
mengobati pasien mereka dengan menggunakan puasa ini.” [13]
[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab
Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin
Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu
Katsir]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22) dan Shahiih Muslim (III/157))
[2]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22) dan Shahiih Muslim (III/173))
[3]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/157))
[4]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/121))
[5]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/121))
[6]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/23) dan Shahiih Muslim (III/177))
[7]. Ash-Shaum karya Syaikh ‘Abdurrahman ad-Dausari, hal. 16.
[8]. Syaikh Abdurrahman ad-Dausari t secara panjang lebar telah
menguraikan manfaat puasa. Demikian pula Ustadz Taufiq Sab’u. Bagi yang
berminat, silakan merujuknya. Ash-Shaum (hal. 16) dan hal. 87.
[9]. Yang mengungkapkan sya’ir ini adalah al-Mutanabbi. Lihat Diiwaan
Abi Thayyib oleh al-Mutanabbi, dengan syarah Abul Baqa’ al-‘Ukbari
(III/287).
[10]. Ash-Shaum, karya Syaikh ad-Dausari, hal. 23.
[11]. Zaadul Ma’aad (I/320).
[12]. Lihat kitab Haakadzaa Nashuum, hal. 161 dan seterusnya.
[13]. Ma’ar Rasuul fii Ramadhaan, ‘Athiyyah Muhammad Salim (kitab ini
dibe-rikan muqaddimah oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, hal. 5).
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar